Selasa, 12 Juli 2011

Sistem Sapaan 'Ibu' Dalam Bahasa Sasak


SISTEM SAPAAN IBU DAN BAPAK  
DALAM BAHASA SASAK 





oleh :
ITSNA HADI SAPTIAWAN
02/159046/SA/12298



SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2006
1. Pendahuluan
            Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan sebuah perangkat yang menghubungkan pergaulan antar manusia dalam kehidupan yang dijalani sehari-hari. Bila berinteraksi dengan individu lain, seorang individu harus dapat menyesuaikan perilakunya (termasuk perilaku bahasanya) terhadap lingkungannya. Perilaku berbahasa ditentukan oleh bermacam-macam variabel, antara lain identitas lawan bicara, situasi, dan tempat terjadinya pembicaraan (setting), dan jenis kelamin lawan bicara. Variabel tersebut berhubungan dengan siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, dan kapan (Fishman, 1972:15 via Purwa dkk, 2003:2).
Menurut Kridalaksana (1978:14 dalam Muzamil dkk., 1997:3), satuan bahasa mempunyai sistem tutur sapa, yakni sistem yang mempertautkan seperangkat kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang dipakai untuk menyebut dan memanggil para pelaku dalam suatu peristiwa bahasa. Dengan demikan, sapaan merupakan salah cara penyampaian maksud dari yang menyapa kepada yang disapa. Lebih lanjut, menurut Muzamil dkk., 1997:3), tutur sapa sebagai suatu sistem untuk menyampaikan maksud mempunyai peranan penting karena sistem penyapa yang berlaku dalam bahasa-bahasa tertentu berdua dengan sistem penyapa yang berlaku dalam bahasa yang lain. Perbedaannya tidak hanya terletak pada kosakata sapaan, tetapi juga pada sikap penuturnya ketika proses sapaan berlangsung.
            Menurut Pateda (1990:13), dalam melaksanakan interaksi sosial yang berhubungan dengan bahasa, individu tidak pernah lagi berpikir apakah kata-kata yang digunakan memenuhi persyaratan fonologis, morfologis, atau sintaksis. Kata dan kalimat itu keluar secara otomatis. Sering hanya dengan satu kata saja cukup, tetapi sering juga memerlukan penjelasan dengan mempergunakan kalimat yang banyak.
Dalam makalah, akan diteliti sistem sapaan bapak ibu dalam bahasa Sasak. Asumsi dasar penelitian ialah bahwa bahasa Sasak mempunyai sistem sapaan yang berbeda terhadap ibu dan bapak dibandingkan dengan bahasa lainnya. Data yang digunakan dalam penelitian tidak hanya bersumber pada data tertulis tapi juga hasil wawancara dengan beberapa penutur asli bahasa Sasak.
2. Analisis
2.1 Sistem Sapaan Istilah Kekerabatan Inaq
            Kata sapaan inaq yang tergolong istilah kekerabatan, muncul dalam enam variasi. Keenam variasi yang dimaksud adalah sebagai berikut.
(a)    inaq ‘ibu’;
(b)   inaq kaka ‘ibu yang lebih tua/bibi’;
(c)    inaq adi ‘ibu yang lebih muda/bibi’
(d)   inaq + (pe/naq) + nama anak I;
(e)    inaq tuan ‘ibu haji’;
(f)    inaq ‘ibu’ + nama
Bentuk variasi dalam sapaan inaq sangat dipengaruhi oleh pola hubungan penyapa dengan pesapa atau yang disapa serta variabel lainnya.
            Bentuk sapaan inaq digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa wanita yang lebih tua yang sudah punya anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dan hubungan akrab. Bentuk sapaan inaq kaka digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa wanita yang lebih tua dari orang tua penyapa, yang masih bujang maupun yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dalam hubungan akrab.
            Bentuk sapaan inaq adi digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa wanita yang lebih muda dari orang tua penyapa, yang masih bujang maupun yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dalam hubungan akrab. Bentuk sapaan inaq + (pe/naq) + nama anak I digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa wanita (tua, sebaya, muda) yang sudah mempunyai anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab.    
            Bentuk sapaan inaq tuan digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa wanita (tua, sebaya) baik yang sudah memiliki anak atau belum, tetapi wanita tersebut sudah menunaikan ibadah haji. Bentuk sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dalam hubungan akrab. Bentuk sapaan inaq ‘ibu’ + nama digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa wanita (tua, sebaya, muda) yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dalam hubungan akrab dan tidak akrab. 
Contoh sapaan:
1. inaq
    Inaq, pe kembe ke? ‘Ibu, mau kemana?’
2. inaq kaka
    (I)naq kaka, kumbena ke naenpe. ‘Bibi, kaki Anda kenapa?.’
3. inaq adi
    Mbe langan ku tindok bareh (i)naq adi ‘Saya nanti tidur dimana bi?’
4. inaq + (pe/naq) + nama anak I
·        Inan Naq Kur, pe keto dekun deka buk guru ‘Bapak (dari) Kur, disuruh ke sana oleh ibu guru’
·        Pe bekelor juluk Inan Pe Ajis ‘Mari makan dulu ibu (dari) Ajis’
5. inaq  tuan
    Yak ku toang be (i)naq tuan ‘Saya tidak tahu bu haji’
6. inaq + nama
    Inaq Amit, ne lek julu langan pe tokol ‘Ibu Amit, duduk di depan sini lo’
Keterangan:
1. Tanda (..) melambangkan bahwa fonem/huruf yang terdapat di dalamnya bersifat opsional.
2. Cetak tebal (bold) pada huruf n dalam kata ‘inan menandai bahwa fonem semula yakni /q/ mengalami proses peluluhan dan digantikan oleh fonem /n/.
3.    Bentuk pe dalam inaq + (pe/naq) + nama anak I merupakan kata depan yang biasa disematkan sebelum nama anak laki-laki. Bentuk lainnya adalah lok. Contoh: Pe Kadir, Pe Iwan, Pe Andi, Lok Ajis, Lok Ipang, dll.
4.    Bentuk naq dalam inaq + (pe/naq) + nama anak I merupakan kata depan yang biasa disematkan sebelum nama anak perempuan. Bentuk lainnya adalah la. Contoh: Naq Sri, Naq Imin, Naq Atun, La Wenty, La Ian, dll.

2.2 Sistem Sapaan Istilah Kekerabatan Amaq
            Kata sapaan amaq muncul dalam lima variasi. Variasi-variasi yang dimaksud adalah sebagai berikut.
(a)    amaq ‘bapak’
(b)   amaq kaka ‘bapak yang lebih tua/paman’
(c)    amaq adi ‘bapak yang lebih muda/paman’
(d)   amaq + (pe/naq) + nama anak I
(e)    amaq ‘bapak’ + nama
Bentuk sapaan amaq digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria yang lebih tua yang sudah mempunyai anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dan dalam hubungan akrab. Bentuk sapaan amaq kaka digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria yang lebih tua dari orang tua penyapa, yang masih bujang maupun yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dalam hubungan akrab.
            Bentuk sapaan amaq adi digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria yang lebih muda dari orang tua penyapa, yang masih bujang maupun yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dalam hubungan akrab. Bentuk sapaan amaq + (pe/naq) + nama anak I digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria (tua, sebaya, muda) yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam hubungan resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab.
Bentuk sapaan amaq ‘bapak’ + nama digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria (tua, sebaya, muda) yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dalam hubungan akrab dan tidak akrab.
Contoh sapaan:
1. amaq
    Amaq, tindokpe ke wah ni? ‘Bapak, sudah tidurkah?’
2. amaq kaka
    (A)maq kaka, pe ngudut juluk  ‘Paman, mari merokok dulu.’
3. amaq adi
    Kumbe sarangku bareh (a)maq adi ‘Nanti cara saya bagaimana paman?’
4. amaq + (pe/naq) + nama anak I
·        Aman Naq Nung, pe ketoang dekak ajin bubuk kopi ‘Bapak (dari) Nung, tolonglah tanyakan harga bubuk kopi.’
·        Pe mentelah juluk Aman Pe Munir ‘Mari singgah dulu Bapak (dari) Munir.’
5. amaq + nama
Amaq Muhnim, pe tulung ita bareh ndek ‘Bapak Muhnim, nanti bantu saya/kami ya.’
Keterangan:
1. Tanda (..) melambangkan bahwa fonem/huruf yang terdapat di dalamnya bersifat opsional.
2. Cetak tebal (bold) pada huruf n dalam kata ‘aman menandai bahwa fonem semula yakni /q/ mengalami proses peluluhan dan digantikan oleh fonem /n/.

2.3 Sistem Sapaan Istilah Kekerabatan Mamiq
            Kata sapaan mamiq muncul dalam enam variasi. Keenam variasi yang dimaksud adalah sebagai berikut.
(a)    mamiq ‘bapak’
(b)   mamiq kaka ‘bapak yang lebih tua/paman’
(c)    mamiq adi ‘bapak yang lebih muda/paman’
(d)   mamiq + (pe/naq) + nama anak I
(e)    mamiq tuan ‘bapak haji’
(f)    mamiq + nama
Bentuk sapaan mamiq digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria yang lebih tua yang sudah mempunyai anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dan dalam hubungan akrab. Bentuk sapaan mamiq kaka digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria yang lebih tua dari orang tua penyapa, yang masih bujang maupun yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dalam hubungan akrab.
Bentuk sapaan mamiq adi digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria yang lebih muda dari orang tua penyapa, yang masih bujang maupun yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dalam hubungan akrab. Bentuk sapaan mamiq + (pe/naq) + nama anak I digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria (tua, sebaya, muda) yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam hubungan resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab.
Bentuk sapaan mamiq tuan digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria (tua, sebaya) baik yang sudah memiliki anak atau belum, tetapi pria tersebut sudah menunaikan ibadah haji. Bentuk sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dalam hubungan akrab. Bentuk sapaan mamiq ‘bapak’ + nama digunakan oleh penyapa pria tua dan muda dan wanita tua dan muda untuk menyapa pria (tua, sebaya, muda) yang sudah memiliki anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dalam hubungan akrab dan tidak akrab.
Contoh sapaan:
1. mamiq
    (Ma)miq, pe kembe ke? ‘Bapak, mau kemana?’
2. mamiq kaka
    (Ma)miq kaka, mpetanda epe lek inaq. ‘Paman, Anda dicari oleh ibu.’
3. mamiq adi
·        Apa ta gawekpe nengka mamiq adi ‘Sekarang paman lagi mengerjakan apa?’
·        (Ma)miq adi, ku lalo juluk ‘Paman, saya pergi dulu’
4. mamiq + (pe/naq) + nama anak I
(Ma)miq Naq Kur, pe keto dekun deka buk guru ‘Bapak (dari) Kur, disuruh ke sana oleh ibu guru’
5. mamiq tuan
·        Ba angkan yak tiang toang (ma)miq tuan ‘O, makanya saya tidak tahu pak haji’
·        (Ma)miq tuan, payu ke tu sikir bareh kelem ‘Pak haji, acara zikiran nanti malam jadi?’
6. mamiq + nama
    Mamiq Rasidi, silak ne lek julu pe tokol ‘Bapak Rasidi, silahkan duduk di depan.’
Keterangan: Tanda (..) melambangkan bahwa fonem/huruf yang terdapat di dalamnya bersifat opsional.


DAFTAR PUSTAKA

Muzamil, A.R. dkk. 1997. Sistem Sapaan Bahasa Melayu Sambas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pateda, Mansoer. 1990. Sosiolinguistik. Bandung: Penerbit Angkasa.

Purwa, I Made dkk. 2003. Sistem Sapaan Bahasa Sumbawa. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

DATA INFORMAN
  1. Khalida Khaerani, 20 tahun. Mahasiswi Angkatan 2004 Jurusan Pendidikan Fisika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Alamat asal: Desa Karang Baru, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur NTB
  1. Lalu Azizudin Mansur, 21 tahun. Mahasiswa Angkatan 2004 Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang.
Alamat asal: Desa Kalijaga, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur NTB
  1. Ahmad Madani, 22 tahun. Mahasiswa Angkatan 2003 Jurusan Hubungan Internasional Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Alamat asal: Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah NTB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya