Kamis, 14 Juli 2011

SAMUEL BECKETT - Sebuah Salah Paham


NASKAH : TEATER I “SEBUAH SALAH PAHAM’’
KARYA : SAMUEL BECKETT
ALIHBAHASA :MAX ARIFIN


Di sudut sebuah jalan.Runtuhan bangunan.
A, buta, duduk di atas bangku dengklik, menggesek biola tuanya. Di sampingnya ada sebuah peti setengah terbuka dan di atas peti ini ada sejenis mangkok.
Dia berhenti menggesek biolanya, memandang ke kanan, mendengar.-

Pause.-

1.A. : Sedekahlah untuk orang tua melarat; sedekahlah untuk orang tua melarat. [Diam.Dia bermain,berhenti lagi, memandang ke kanan, mendengar. B masuk dari kanan di atas kursi roda. Dia berhenti. Tertegun].
Sedekahlah untuk orang tua melarat.
[Pause].-

2.B : Musik ! [Pause].Jadi sama sekali bukan impian.Akhirnya ! juga bukan angan-angan; mereka membisu dan aku membisu di depan mereka.[Dia maju,berhenti,memandang ke dalam mangkok,tanpa emosi].Orang malang!

[Pause].

Sekarang aku bisa kembali,karena misteri itu sudah terungkap .[dia kembali memandang kursi rodanya.Berhenti]. Atau, bagaimana kalau kita bergabung dan hidup bersama,sampai maut datang menjemput.[Pause]. Bagaimana pendapatmu tentang itu,Billy? Boleh aku memanggil kau Billy seperti nama anakku? [Pause].Kau ingin seorang teman, Billy?[Pause] Kau mau makanan kaleng, Billy?

3.A : Makanan dalam kaleng? Makanan apa itu?

4.B : Daging dalam kaleng,Billy; ya, daging dalam kaleng.Cukup untuk menjaga kesehatan badan dan jiwa sampai musim panas. [Pause]. Tidak? [Pause]. Juga ada beberapa buah kentang,Ya,cuma beberapa pon.[Pause] .Kau suka kentang,Billy?
[Pause] .Malah kita bisa membiarkan kentang-kentang itu bertunas kemudian kita menanamnya.Kita bisa mencobanya.[Pause] Aku memiliki tanahnya dan kau bisa menanamnya.[Pause].Tidak?

[Pause]

5.A. : Bagaimana pohon-pohon itu tumbuh?

6.B : Sulit mengatakannya.Seperti kau ketahui, sekarang ini musim dingin.

[Pause]
7.A : Sekarang ini siang atau malam?

8.B : Oh,…[memandang ke langit] sekarang siang, kalau kau mau.Tak ada matahari,tentunya, sebab kalau ada kau tentulah tidak bertanya. [Pause].Dapat kau mengerti apa maksudku? [Pause] Apakah kau masih memiliki kecerdasan tentang dirimu sendiri. Billy, apakah kau memiliki akal budi tentang dirimu ?

9.A : Kalau cahaya,bagaimana. Ada ?

10.B : Ya. [Memandang ke langit lagi]. Ya,cahaya. Tak ada kata yang tepat untuk itu. [Pause]. Boleh aku menjelaskannya padamu ? [Pause]. Boleh aku mencoba memberikan sebuah gagasan tentang cahaya ini ?

11.A : Bagiku, kadang-kadang bila aku menghabiskan waktuku di sini di waktu malam, itu berarti memainkan biola tua ini atau mendengar, mengawasi ada orang datang. Aku biasa merasakan bagaimana senja menjelang dan mempersiapkan diri. Aku menyisihkan biola dan mangkok dan berdiri bila ia menuntun aku.

[Pause].-

12.B : Dia ? Dia siapa ?

13.A : Dia istriku. [Pause] Seorang wanita. [Pause]. Tapi sekarang……….[Pause]

14.B : Sekarang ?

15.A : Kapan aku keluar, aku tidak tahu; dan kapan aku tiba di sini aku tidak tahu dan selama aku berada di sini aku tidak tahu, apakah siang atau malam.

16.B : Kau tidak selalu seperti dirimu. Apa yang menguasai kau ? Perempuan?Judi? Atau Tuhan ?

17.A : Aku akan selamanya seperti diriku.

18.B : Mari !

19.A : [Marah]. Aku akan selamanya seperti diriku,dicekam kegelapan sambil menggesek biola yang menghasilkan nada-nada sumbang menuju ke empat penjuru angin.

20.B : [Marah]. Kita mempunyai istri, bukan? Istrimu akan menuntun kau dan istriku akan mendorong kursi roda ini ke luar di waktu malam dan pulang lagi di waktu pagi dan mendorong aku sejauh mungkin bila aku bingung.

21.A : Kau pincang ? [Tanpa emosi] Mahluk yang malang !

22.B : Cuma satu masalah: kalau putar ke kanan. Bila tak ada masalah yang satu ini, kupikir aku akan bisa mengelilingi dunia ini dengan cepat. Sampai pada suatu hari ketika aku menyadari aku bisa pulang. [Pause]. Umpama begini. Aku berada di A [ Ia mendorong dirinya sedikit ke depan lalu berhenti]. Aku bergerak ke B [Ia mendorong dirinya ke belakang sedikit, berhenti]. Dan aku kembali lagi ke A [dengan penuh kesulitan]. Garis lurus ! Ruang kosong ! [Pause]. Bisa aku mulai menggerakkan kau ?

23.A : Kadang-kadang aku mendengar langkah-langkah orang mendekat. Atau suara-suara. Aku bilang pada diriku, mereka itu sedang berjalan pulang, beberapa orang memang berjalan pulang, mencoba dan memulai lagi atau sedang mencari seseorang yang mereka tinggalkan di belakang.

24.B : Kembali! [Pause] Siapa yang mau kembali ke mari ? [Pause] Padahal kau tidak pernah menyeru ! [ Pause] Berteriaklah ! [Pause]. Tidak ?

25.A : Apakah kau mengamati sesuatu yang tidak ada?

26.B : Oh, aku? Mengamati sesuatu ? Kau tahu, aku duduk di sana, tergeletak di atas kursi, di kegelapan selama 23 jam dalam sehari. [Marah] Apa yang harus kuamati ? [Pause]. Kau pikir kita akan mengadakan semacam perlombaan setelah kau mulai mengenal aku, he ?

27.A : Kau bilang tadi daging dalam kaleng ?

28.B : Tepat.Bagaimana kau hidup selama ini? Kau tentulah kelaparan.

29.A. : Di mana mana banyak terdapat sesuatu.

30.B : Yang dapat dimakan?

31.A : Kadang-kadang.-

32.B : Kenapa tidak kau biarkan saja dirimu mati kelaparan?

33.A : Dalam hidupku aku pernah berbahagia. Suatu hari aku mendapat sedekah berupa buah-buahan sebanyak satu keranjang besar.

34.B : Tidak !

35.A : O, ya, cuma satu keranjang kecil penuh buah-buahan di pertengahan jalan ini.

36.B : Oke, baiklah. Tapi kenapa tidak kau biarkan dirimu mati ?

37.A : Aku memang pernah memikirkan hal itu.

38.B : [Mangkel].Tapi kau toh tidak melakukannya.
39.A : Aku cukup bahagia.{Pause]
Memang aku selalu tidak bahagia, tapi cukup bahagia.

40.B : Tapi kau tentulah setiap harinya akan bertambah tidak bahagia.

41.A : [Marah].Aku cukup bahagia. [Pause]

42.B : Sekiranya memang kita-kita ini dibuat untuk kepentingan satu sama lain, bagaimana ?

43.A : [Gerak gerik yang penuh arti].Kini, bagaimana semua hal itu tampaknya ?

44.B : Oh, aku ? Aku tidak pernah pergi jauh-jauh. Cuma maju-mundur didepan pintu rumahku. Sebelumnya aku tidak pernah ke mari.

45.A : Tapi apakah kau mencari dirimu?

46.B : Bukan, bukan begitu !

47.A : Setelah masa kegelapan itu, kau tidak………

48.B : [Marah].Bukan?! [Pause]. Tentu, kalau kau mau aku mencari diriku, aku akan melakukannya. Dan akhirnya kau tidak keberatan mendorong kursi rodaku ini, aku akanmencoba melukiskan pemandangan di sekitar kita sementara kita melaju ke depan.

49.A : Maksudmu aku akan menuntunmu ? Aku tidak mau tersesat lagi.

50. B : Tentu. Aku akan bilang begini; Hati-hati, Billy, kita sedang menuju ke sebuah tumpukan kotoran yang besar. Mundur sedikit dan belok ke kiri. Itulah kata-kata yang akan kuberikan padamu.

51.A : Kau akan bilang begitu ?

52.B : [Tampak puas] Gampang bukan? Gampang sekali, Billy. Di sana dalam parit aku melihat sebuah kaleng. Mudah mudahan ia berisi sop. Atau mungkin juga sayur kacang buncis.

53.A : Sayur kacang-buncis ! [Pause].-

54.B : Apakah kau mulai menyukai aku ? [Pause]
Atau itu cuma imajinasiku.

55.A : Sayur buncis ! [Ia bangun, mengambil mangkoknya dan manyodorkan ke arah B,meminta]. Di mana engkau ?

56.B : Di sini, temanku sayang. [A mencoba mendorong kursi roda itu dengan serampangan]. Berhenti,berhenti !

57.A : [Terus juga mendorong]. Bukankah ini suatu berkah bagimu? Atau katakanlah semacam hadiah !

58.B : Berhenti ! [Ia mencondongkan badannya ke belakang. A membiarkan kursi roda itu menggelinding dan melompat ke belakang. Pause. A menggapai –gapai mencari bangku tempat duduknya. Maju.Berhenti, menggapai-gapai lagi. Tidak ditemukan bangku tempat duduknya itu]. Maafkan aku. [Pause]. Maafkan aku, Billy.

59.A : Di mana aku ? [Pause].Di mana aku tadi ?

60.B : Rupanya aku kini kehilangan dia. Padahal ia sudah mulai menyukai aku. Tapi aku mengecewakan dia. Ia akan meninggalkan aku dan aku tidak akan melihat dia lagi. Aku tidak akan melihat siapapun lagi. Kita tidak akan mendengar suara-suara manusia lagi.

61.A : Apakah kau tidak mendengarnya ? keluhan dan rintihan yang sama sejak dari buaian ibunda sampai ke kuburan.

62.B : [Mengerang].Lakukanlah sesuatu untukku sebelum aku pergi.

63.A : Di sana. Kau bisa dengar ? [Pause].Aku tidak bisa pergi ![Pause].Kau dengar ?

64.B : Kau tidak bisa pergi ?

65.A : Aku tidak bisa pergi tanpa alat-alatku ini.

66.B : Alat-alat apa itu yang menjdi milikmu ?

67.A : Tak ada.

68.B : Lho,katanya kau tidak bisa pergi tanpa alat-alatmu.

69.A : Memang. [Ia mulai meraba-raba lagi, lalu berhenti].Akhirnya aku akan mendapatkannya.[Pause].Atau aku tinggalkan saja.

70.B : Tolong perbaiki selimut pada kakiku. Kakiku terasa sangat dingin.[A berhenti].Bisa saja kulakukan sendiri, tapi akan terlalu lama.[Pause].Lakukanlah untukku, Billy.Sudah itu aku bisa kembali ke sudut yang sepi itu dan di sana aku bilang: aku telah melihat orang untuk terakhir kalinya, aku mengecewakan dia setelah dia sempat menolong aku.

[Pause]

Kutemukan kepingan-kepingan cinta di sudut hatiku dan kematiannya dapat kupadukan dengan jenis diriku.[Pause].Kenapa kau memandang tercengang seperti itu padaku ? [Pause].Apakah aku mengatakan sesuatu yang tidak pantas kukatakan? [Pause].Bagaimana rupa jiwaku?[ A berjalan dengan meraba-raba menuju padanya].

71.A : Bersuaralah !
[B mengeluarkan suara. A meraba-raba menuju padanya lagi.Berhenti].

72.B : Apakah alat penciummu sudah tumpul ?

73.A : Dimana-mana cuma tercium bau busuk.
[A membuka lebar-lebar tangannya.Apakah tanganmu tidak bisa menjangkau tanganku? [Ia berdiri diam,tanpa gerak dengan tangan terbuka ke depan].


74.B : Sebentar.Kau kan tidak melakukan sesuatu dengan cuma-cuma.[Pause].Kumaksudkan,tanpa syarat.[Pause].Tuhan Maha Pengasih.[Pause].Ia dapat memegang tangan A dan menarik ke dekatnya].

75.A : Kakimu ?

76.B : Apa ?

77.A : Kau bilang kakimu !

78.B : Aku cuma tahu kata kaki.[Pause]. Ya ,kakiku,cobalah bungkukskan dengan baik
[A membungkuk, meraba-raba].Berlututlah, dengan berlutut kukira kau akan lebih santai.[B membantu A untuk berlutut di suatu tempat yang baik].Ah, di sana !

79.A : [Merasa diganggu].Biarkan tanganku merabamu.Kau ingin supaya aku membantumu, tapi kau pegang tanganku.
[B membiarkan tangannya meraba dan ia merasa geli ketika selimut kakinya diraba].Apakah kau cuma mempunyai satu kaki?

80.B : Memang cuma satu.

81.A : Dan yang satunya?

82.B : Membusuk, lalu dipotong.[A membungkus kaki yang satu ini]

83.A : Sudah cukup?

84.B : Ketatkan sedikit.[A melakukannya].Cekatan sekali tanganmu.
[Pause].-

85.A : [Meraba-raba, menuju perut B].Apakah ini bagian-bagian lainnya ?
86.B : Kini kau boleh berdiri dan meminta balas jasamu.

87.A : Bagian-bagian lainnya bagaimana ?
88.B : Bagian-bagian lainnya memang tidak dipotong, kalau itu yang kau ingin ketahui.[Tangan A meraba ke atas lagi, meraba wajah B].

89.A : Ini wajahmu ?
90.B : Sumpah, memang itu wajahku.[Pause].Seperti apa kira-kira wajahku itu? [Jari-jari A meraba ketempat-tempat lainnya]. Itu ? Itu namanya kutil.

91.A : Merah ?

92.B : Ungu ! [A menarik tangannya, tapi tetap berlutut].Tanganmu memang cekatan ! [Pause]

93.A : Masih tetap siang ?

94.B : Siang ?[Memandang ke angkasa].Terserah kalau kau mau.[Memandang].Memang tak ada kata yang tepat untuk itu.

95.A : Kira-kira akan segera malam? [B membungkukkan badannya pada A dan memegang pundak A]

96.B : Mari,Billy,berdirilah,kini kau mulai merepotkan aku.

97.A : Apakah akan segera malam ?

98.B : [Memandang ke langit].Siang….malam….[memandang lagi].kadang-kadang tampak bagiku dunia ini begitu angkuh dan sombong; diberikannya kita siang tanpa matahari, di tengah-tengah jantung musim dingin, di suatu malam yang kelabu.[Memegang bahu A lagi].marilah,Billy, berdirilah, kau kini mulai merintangi aku.

99.A : Apakah dimana-mana tampak rumput ?

100.B :Tidak.

1.A : [Gemas].Tidak tampak hijau di mana-mana ?

2.B : Cuma ada sedikit lumut.[Pause.A mengelus-elus selimut kaki B, lalu meletakkan kepalanya di atas kaki B itu].
Tuhan Maha Pemurah ! Apakah kau tidak akan berdoa ?

3.A : Tidak !

4.B : Atau menangis barangkali ?

5.A :Tidak.[Pause].Aku bisa meletakkan kepala seperti ini untuk selama-lamanya, di atas lutut seorang teman tua.

6.B : Lutut! [Menggoncang-goncangkan badan A dengan keras].Apakah kau tidak bisa bangun?

7.A :[Membenah dirinya agar lebih nyaman].Alangkah tenang dan damainya ! [B menolaknya dengan keras. A jatuh dan bertelokan pada tangannya]. Dora,istriku sering bilang bila aku tidak cukup memperoleh uang: Kau dan harpamu! Lebih baik kau merangkak ke segenap penjuru dunia dengan medali-medakli ayahmu yang kau sematkan di pantat celanamu dan kotak uang bergantungan di lehermu. Kau dan alat musikmu itu! Kau pikir kau ini siapa sih ?
Dan dia membiarkan aku tidur di lantai.[Pause]. Siapakah aku ini ?…….[Pause].Ah, aku tidak mampu menerkanya. [Pause].Lalu dia berdiri. Tidak pernah mampu.[Ia mulai meraba lagi, mencari tempat duduknya, lalu berhenti dan memasang telinga seperti mendengar sesuatu].Jika suara-suara itu cukup lama kudengar, maka sebuah harpa dengan satu tali cukuplah.

8.B : Harpamu ? [Pause].Macam apakah kiranya harpamu itu ?

9.A : Dulu pernah aku memiliki sebuah harpa kecil.Tapi diamlah, dan biarkan aku mendengar sesuatu.[Pause]

10.B : Berapa lama kau mampu diam seperti itu ?

11. A :Aku bisa berjam-jam mendengar segala macam suara.
[Keduanya memasang telinga, mendengar]

12.B : Suara-suara apakah itu ?

13.A : Aku tidak tahu suara apa itu.
[Keduanya memasang telinga lagi.Mendengar]

14.B :Aku dapat melihatnya.[Pause].Aku dapat…………

15.A :[Marah] Apakah kau tidak mau diam ?

16.B : Tidak ! [B melepaskan kepala A yang dipegang dari tadi].Aku dapat melihat dengan jelas, itu di tempat dudukmu.[Pause]. Bagaimana kalau aku mengambilnya lalu kabur? [Pause]. Eh, Billy, bagaimana tanggapanmu ? [Pause].
Suatu hari nanti, akan ada orang tua yang lain, muncul dari persembunyiannya dan mendapatkan kau sedang membunyikan harmonikamu. Dan kau akan mengatakan padanya, bahwa kau pernah memiliki sebuah biola kecil.[Pause]. Eh, Billy ! [Pause] Aatau kau sedang menyanyi. [Pause]Eh ,Billy, bagaimana tanggapanmu ?[Pause]
Dan di sana, ia akan bersiut-siut pada angin musim dingin setelah kehilangan harmonika kecilnya.
[Ia mendorong A dengan tongkatnya]. Eh, Billy ?
[A berputar, memegang ujung tongkat itu dan merampasnya dari tangan B].

Layar. Layar.-


Mataram,6 Februari 1978.



Alihbahasa:
MAX ARIFIN,
Jl.Bola Volley Blok E 33,
Perum Griya Japan Raya,Sooko,
Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa timur
Telp 0321- 326915
Hp 085 2300 39807.
Email: daxxenos2@yahoo.com.

Chandra Kudapawana - Elegi Musim Panas


ELEGI MUSIM PANAS
Karya : Chandra Kudapawana


DI SEBUAH RUANG TAMU RUMAH MEWAH. FURNITURE SERBA MENGKILAP MENGHIASI SETIAP SUDUT RUANG ITU. MEJA, LEMARI, KURSI, SEMUANYA TAMPAK MAHAL DAN BERKELAS. TAK KECUALI LEMARI KECIL TEMPAT BERDERETNYA MINUMAN-MINUMAN BERALKOHOL KELAS ATAS. SIANG HARI MUSIM KEMARAU. NIKOLAS TENGAH MENUANGKAN ANGGUR KE DALAM SLOKI. SEMENTARA TAK JAUH DARI SANA, NITA DUDUK TERMENUNG. TAK BERGAIRAH.

NIKOLAS (MENEGUK ANGGUR DARI SLOKI)
Mantap! Ini baru namanya anggur. Beda sekali dengan produk-produk local. Buatan luar negeri memang lebih bagus. (MENUANGKAN LAGI ANGGUR DALAM BOTOL).

NITA (MELIRIK. MENARIK NAPAS)

NIKOLAS
Dari mana kau dapatkan anggur sebagus ini?

NITA
Sudahlah, Nikolas. Jangan terlalu banyak minum tidak baik untuk kesehatanmu.

NIKOLAS(SEMPOYONGAN MENGHAMPIRI NITA)
Alah! Kau ini macam orang tua saja. Lalu buat apa kau bawa anggur-anggur itu kalau
bukan untuk dinikmati. Sekedar pajangan saja, begitu?

NITA
kalau iya, mau apa?

NIKOLAS (TERTAWA NGAKAK)
Nita, Nita. Kau ini ada-ada saja, anggur selezat itu hanya sekedar pajangan? Menurutku, anggur itu ibarat seorang wanita cantik. Tidak akan puas kalau hanya dilihat saja, ada trik-trik tertentu untuk menikmatinya. Pertama buka dulu seluruh pakaiannya agar kita bisa melihat halus kulitnya, kedua biarkan menari-nari erotis, ketiga sentuh dia dengan lembut dan yang keempat kau juga sering merasakannya, bukan? (BERGERAK SEPERTI MAU MEMELUK TUBUH NITA)

NITA
Nikolas! (MENGHINDAR) harus berapa kali aku katakan jangan terlalu banyak minum. Kau selalu saja ngomong ngawur kalau sudah mabuk.

NIKOLAS
Lho! Aku tidak mabuk, sayang. Kalau kau tidak percaya bisa tanyakan pada kyai atau ulama tentang apa yang aku katakan tadi.

NITA
Kau makin ngawur saja.

NIKOLAS
Oh ya, kau belum jawab pertanyaanku tadi.

NITA
Pertanyaan yang mana?

NIKOLA
Dari mana kau dapatkan anggur itu?

NITA
Aku beli sendiri. (MEMALINGKAN MUKA)

NIKOLAS (BERJALAN MENUJU LEMARI TEMPAT ANGGUR-ANGGUR ITU DISIMPAN. IA MENGAMBIL BOTOL ANGGUR.)
Setahuku merek seperti ini tidak dijual bebas dipasaran, apalagi di negara ini. (MENATAP NITA) kau bohong Nita?

NITA
Kau tidak percaya padaku? Kalau bukan beli darimana lagi aku dapatkan anggur itu.

NIKOLAS
Atau jangan-jangan kau masih ada hubungan si botak tai ayam itu.

NITA
Siapa, Martin maksudmu?

NIKOLAS
Ha! Siapa lagi. Aku Nazis buat sebut namanya. Cukup si botak tai ayam saja, itupun terlalu bagus.

NITA
Itu namanya cemburu buta.

NIKOLAS
Apalah istilahnya aku dengar si botak itu masih saja datang ke diskotik tempatmu bekerja. Pasti bukan sekedar untuk minum. Dia itu datang hanya satu tujuan diotaknya. Bertemu denganmu lalu mengajakmu kencan di hotel bintang lima, ya kan?

NITA
Kau ini ngomong apa sih Nikolas? Aku ini bukan perempuan murahan, mau saja diajak sama laki-laki lain.

NIKOLAS (MENGHAMPIRI NITA)
Dengar, Nita. Aku tahu siapa dirimu. Pekerjaanmu itu tidak menutup kemungkinan kau…..

NITA
Sudahlah Nikolas. Kau tidak perlu urus perkara anggur itu. Darimana aku darimana aku mendapatkannya, sama sekali tak penting. Kau tinggal minum saja lalu mabuk, beres kan?

NIKOLAS
Enak saja kau bilang beres. Memangnya aku ini laki-laki macam apa? membiarkan istrinya ditiduri laki-laki lain kemudian pulang membawa sebotol anggur dari luar negeri. Aku tidak akan terima begitu saja.

NITA  (TERTAWA)
Apa kau bilang? Istri?

NIKOLAS
Ya, istriku.

NITA
Siapa yang kau maksud?

NIKOLAS
Siapa lagi kalau bukan kau, Nita Valentina.

NITA
Kau ini mabuk atau gila, Nikolas? Sejak kapan kita kawin?

NIKOLAS
Setiap hari.

NITA  (TERSINGGUNG)
Apa maksudmu?

NIKOLAS
Ya, setiap hari kau dan aku tidur satu ranjang. Kemudian aku terbuai oleh desahan napasmu, hingga aku rela menjilati keringat ditubuhmu itu. Kita lakukan hubungan intim. Apa bukan kawin namannya?.

NITA
Sinting! Yang namanya istri itu seharusnya melalui prosedur tertentu. Menikah misalnya.

NIKOLAS
Alah, itu sudah kuno. Anjing saja tidak pernah melakukan pernikahan.

NITA (BERANG)
Kau yang anjing!

NIKOLAS
Ya memang. Aku anjing jantan dan kau anjing betina. (TERTAWA)

NITA
Cukup Nikolas! (MENGHEMPASKAN TUBUHNYA KE ATAS KURSI. MENANGIS) sebenarnya kau menganggapku ini apa? Kau laki-laki biadab Nikolas, tak pernah menghargai perasaan wanita.

NIKOLAS(DUDUK DISAMPING NITA)
Maafkan kata-kataku tadi. Aku tidak bermaksud….

NITA 
Pergi. Jangan dekati aku lagi.

NIKOLAS
Nita…

NITA
Sebenarnya aku sudah muak dengan kehidupan seperti ini. Aku ingin hidup normal seperti orang lain. Menjalani rumah tangga yang sah. Merasakan sucinya sebuah pernikahan. Tidak seperti sekarang, membiarkan laki-laki macam kau untuk tinggal serumah denganku tanpa ada status suami istri. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku mencintai kau Nikolas.

NIKOLAS
Dengar, sayang…kalau kau sudah siap aku akan melamarmu besok lusa. Dan kita akan hidup seperti apa yang kau katakan tadi. Bagaimana?

NITA
Tidak, Nikolas.

NIKOLAS    
Kenapa?

NITA 
Aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam kehidupan rumah tanggamu.

NIKOLAS    
Jadi kau menolak menjadi istriku karena aku sudah berkeluarga.

NITA  (DIAM. MENYEKA AIR MATANYA)

NIKOLAS(MENGHELA NAPAS PANJANG)
Bagiku hidup ini tidak adil, Nita. Kau lihat, pejabat, orang-orang berduit, bahkan sampai ulama sekalipun bisa punya istri dua. Tidak ada yang salah, kenapa hal itu seakan sulit bagiku.

NITA
Bukan begitu maksudku. Aku ini wanita dan istrimu juga wanita, jadi aku tahu betul perasaanya kalau sampai kau menduakan cintanya, Nikolas.

NIKOLAS     (MENGUSAP AIR MATA NITA)
Jadi kau mau apa? aku bersedia menceraikan istriku kalau kau mau menikah denganku. Bagimana?

NITA (GELENG KEPALA)

NIKOLAS
Kau tidak tahu kenapa aku selalu diam di sini denganmu. Rumah tanggaku sudah hancur berantakan. Semuanya terasa seperti dalam neraka saja. Setelah aku terkena PHK beberapa bulan lalu, semuanya berubah total. Istriku tidak lagi menganggapku sebagai manusia, ia hanya mengakui keberadaanku jika aku pulang membawa setumpuk uang. Kalau tidak, jangan harap ada senyum atau makanan layak untukku. Yang aku dapatkan hanya wajah masam dan bentakan-bentakan sialan. (SUARANYA BERUBAH AGAK BERAT) terlebih setelah istriku mengenal laki-laki itu. Ia jadi sering pulang larut malam dengan alasan, bisnis inilah, itulah. Semuanya dikaitkan dengan ketidak becusanku mencari uang. Padahal aku tahu kelakuannya dibelakangku. Tapi aku sama sekali tidak berdaya. Sebagai suami yang gagal aku hanya bisa pasrah melihat bekas kecupan dileher istriku. Dia telah menghianatiku, Nita. Dan hanya kau yang mau menerimaku apa adanya.

NITA (MENATAP NIKOLAS)
Kenapa kau tidak pernah bilang kepadaku tentang itu semua?

NIKOLAS
Karena itu masalah pribadiku. Aku tidak mau orang lain tahu. Tapi setelah aku mengenalmu, aku yakin kau mampu menjadi istri yang baik bagiku. Tidak hanya mengakui status suami demi setumpuk uang. Kau bisa menerimaku apa adanya, Nita.

NITA
Tapi…

NIKOLAS
Sudah….percayalah. apa yang aku katakan ini benar. Aku tak mungkin berbohong pada wanita yang sangat aku cintai. Percayalah.

NITA
Nikolas….

NIKOLAS    
Akan kuurus secepatnya proses perceraianku. Setelah itu kita akan segera menikah dan menjalin rumah tangga yang baik.
SEJENAK MEREKA BERDUA TERDIAM. SALING TATAP. NIKOLAS MENDEKATKAN WAJAHNYA PADA NITA. IA HENDAK MENCIUM KENING WANITA ITU TAPI TIBA-TIBA TERDENGAR BUNYI BEL.
NITA (MENDORONG TUBUH NIKOLAS MENJAUH)
jam berapa sekarang? Kenapa mereka cepat sekali datang.

NIKOLAS (MENDESAH)
 Siapa?

NITA
Teman-teman kerjaku. Mereka mau bertamu hari ini.

NIKOLAS
Alah, biarkan saja mereka menunggu. (MENARIK TUBUH NITA)

NITA
Jangan Nikolas, lebih baik kau sembunyi dulu di kamar.

NIKOLAS
Ayolah! Kenapa mesti sembunyi segala memangnya aku ini anak kecil pakai petak umpet segala?

TERDENGAR BUNYI BEL BERULANG KALI.

NITA  (GUGUP)
Ayolah cepat sedikit, Nikolas. Aku mohon dengan sangat, aku tidak mau mereka tahu kalau kau ada di sini.

NIKOLAS (BERBARING DI ATAS KURSI)

NITA
Nikolas! Apa kau tidak kasihan padaku?

NIKOLAS
Kasihan apa?

NITA
Baik, baik. Kalau kau tidak mau pergi aku tidak mau menikah denganmu.

NIKOLAS     (BANGKIT DENGAN MALAS)
Oke! Persetan dengan tamu-tamu itu. Mahluk apapun itu aku tidak akan mengampuni mereka. Menggagu kesenangan orang lain saja.

NITA
Cepat Nikolas!

NIKOLAS
Baiklah. Demi cinta aku akan sembunyi dulu. Dasar! (NIKOLAS MELANGKAH MENUJU KAMAR TIDUR)

BEL BERBUNYI LAGI. NITA MERAPIKAN RAMBUTNYA SEBENTAR KEMUDIAN BERJALAN MENUJU PINTU. TAPI BELUM SAMPAI KE SANA NITA TIBA-TIBA BERJALAN MUNDUR. DI DEPANNYA SEORANG PEREMPUAN GEMUK MENGHAMPIRINYA DENGAN WAJAH PENUH AMARAH.


TAMU(SUARANYA KASAR)
Mana suamiku?

NITA
Nyonya ini siapa? (GUGUP)

TAMU
Dimana kau sembunyikan suamiku?

NITA
Siapa yang nyonya maksud?

TAMU
Siapa lagi kalau bukan si Nikolas. Dimana kau sembunyikan dia? (MENCARI-CARI)

NITA  (MULAI BERANI)
Nikolas siapa? Tidak ada suami siapapun di rumah ini nyonya, aku tinggal sendirian.

TAMU (TIBA-TIBA BERBALIK KE ARAH NITA)
Kau jangan banyak omong. Lebih baik kau tunjukan dimana laki-laki tak bertanggung jawab itu sembunyi. Cepat tunjukan!

NITA (NADA BICARANYA MULAI MENINGGI)
Nyonya ini mendengar tidak? Sudah aku katakan tidak ada siapapun di sini kecuali aku. Memangnya aku ini apa menyembunyikan suami orang.

TAMU
Apalagi kalau bukan sundal! Kau ini perempuan murahan kerjaannya merusak rumah tangga orang.

NITA  (TERIAK)
Nyonya! Seenaknya saja nuduh. Aku tidak kenal nyonya, tapi tiba-tiba saja nyonya datang dan menuduhku yang tidak-tidak.punya hak apa nyonya menghina saya? Lebih baik nyonya pergi sebelum saya panggil polisi.

TAMU
Apa kau bilang? Mau panggil polisi? He, dengar sundal! Silahkan panggil polisi, silahkan! Asal kau tahu saja polisi-polisi itu sekarang sedang berkumpul dirumahku. Mereka mencari-cari Nikolas. Mereka akan menangkap Nikolas karena sudah menggelapkan uang perusahaan. Mengerti?! Sekarang lebih baik kau suruh laki-laki biadab itu keluar sebelum kau yang ditangkap karena menyembunyikan buronan.

NITA (MENGELUH)
Ya Tuhan. Manusia atau bukan sih? Tidak percaya sama omongan orang lain. Sudah aku katakan yang sebenarnya, tidak ada laki-laki di rumah ini. Demi Tuhan…

TAMU
Alah! Jangan bawa-bawa nama Tuhan segala. Kau tahu apa tentang Tuhan? Perempuan sundal sepertimu tidak pantas bicara masalah Tuhan. Hanya orang beragama saja yang boleh bicara masalah Tuhan.

NITA
Nyonya! Teganya bicara seperti itu? Pergi! (TAK BISA MENAHAN TANGIS)

TAMU (SINIS)
Apa? menangis? (MENGEJEK) aduh kasihan cup-cup-cup! (TIBA-TIBA DIA MENCENGKRAM NITA) Ingat, aku ini wanita sama sepertimu. Jadi, jangan pernah menggunakan senjata air mata di depanku. Sama sekali tidak akan berguna.

NITA
Kalau nyonya tidak percaya, silahkan saja cari sendiri.

TAMU
Tentu saja tidak akan ketemu. Karena kau sudah menyuruh laki-laki itu pergi jauh-jauh sebelum aku datang.

NITA 
 Nyonya ini bagaimana? Sudah saya suruh mencari malah tidak menuduh lain lagi.

TAMU            (DUDUK DI KURSI. TERMENUNG SEJENAK)
Begini saja, maafkan kalau kata-kataku tadi sudah menyakiti hatimu. Kalau saja kau tahu apa yang ada dalam hatiku sekarang, tentu kau akan melakukan hal yang sama.

NITA  (DIAM SAMBIL TERISAK-ISAK)

TAMU(BICARANYA DATAR)
Nikolas itu laki-laki yang baik. Selama kami menikah tidak pernah terjadi pertengkaran. Semuanya berjalan seperti apa yang kami cita-citakan selama pacaran dulu. dia seorang suami yang bertanggung jawab. Apalagi ketika kami sudah mempunyai dua orang anak, Nikolas semakin giat mencari nafkah. Tapi beberapa bulan terakhir ia jarang sekali pulang ke rumah. Aku coba bertanya pada rekan kerjanya katannya ia sudah pulang. Tentu saja Sebagai seorang istri aku mempunyai fisarasat buruk tentang suamiku itu. Dan ternyata benar. Nikolas mencintai perempuan lain, dan perempuan itu adalah kau.

NITA
Itu tidak benar nyonya.

TAMU            (TAK PEDULI)
Terserah apa katamu. Yang pasti setelah Nikolas mengenalmu dia jadi berubah. Dia menjelma menjadi setan yang tidak peduli lagi terhadap anak istrinya. mau makan atau tidak. Dan sekarang tiba-tiba polisi-polisi itu datang dan mengatakan bahwa Nikolas telah menggelapkan uang perusahaan sebesar Lima Ratus juta Rupiah.(SEDIH) Mereka akan menyita rumah dan harta bendaku kalau nikolas tidak segera menemuinya. Ya Tuhan…..apa yang harus aku lakukan? (MENUTUP WAJAHNYA DENGA TELAPAK TANGAN. MENANGIS)

NITA  (MENDEKAT)
Aku turut bersedih nyonya. Tapi anda datang pada orang yang salah. Suami nyonya tidak pernah datang ke sini.

TAMU
Sudahlah! Kau tidak usah mengelak terus. Aku sudah tahu semuanya.

NITA 
Benar nyonya.

TAMU
benar kalau kau menjadi wanita idaman lain Nikolas?

NITA
Maksudku bukan itu. Aku benar-benar tidak mengenal suami anda.
TAMU (TERMENUNG. KEMUDIAN BERDIRI LALU MENGELUARKAN SEBILAH PISAU DAPUR DARI DALAM TAS KECILNYA)

NITA  (KAGET)
Nyonya! Anda mau apa?

TAMU
Mungkin kau akan puas kalau melihatku mati, dengan begitu kau lebih leluasa hubungan dengan Nikolas. Aku sudah hancur! buat apa aku hidup. (MENGANGKAT PISAU ITU TINGGI-TINGGI SEAKAN-AKAN HENDAK DIHUJAMKAN KE DALAM PERUTNYA) jika kau bertemu dengan Nikolas, katakan aku minta maaf jika sudah menjadi penghalang hubungan kalian. Selamat tinggal…

NITA  (MELONCAT)
Tunggu Nyonya!

PEREMPUAN GENDUT TIDAK JADI MENGHUJAMKAN PISAUNYA. PISAU ITU DIPEGANGNYA. TANGANNYA BERGETAR.

NITA 
Baik, baik nyonya! Saya akan katakan yang sebenarnya. (MENARIK NAPAS PANJANG) memang, selama ini Nikolas tinggal di sini. Aku bersalah, maafkan aku….

TAMU
Sudah aku duga!

NITA
Maafkan aku, (PELAN) aku mencintai Nikolas.

TAMU
Benar kau mencintai Nikolas?

NITA
Aku tahu aku salah mencintai suami orang lain. Tapi aku semdiri tidak bisa berbuat apa-apa. aku sangat mencintainya.

TAMU
Aku mengerti karena aku juga wanita. (DIAM MENATAP NITA) begini saja, aku tidak akan menghalangi hubungan kalian. Asalkan semua masalah yang sedang aku hadapi beres. Setuju?

NITA
Maksud nyonya?

TAMU
Aku tidak punya uang untuk membayar hutang Nikolas. Aku tidak mau semua harta bendaku disita, mau tinggal dimana aku nanti? Bagaimana nasib anak-anakku? Aku mau meminta semua perhiasan yang sudah diberikan Nikolas padamu.

NITA
Perhiasan? Perhiasan apa?

TAMU
Selama kalian berhubungan pasti Nikolas sudah memberikan barang-barang berharga padamu.

NITA
Demi Tuhan, nyonya. Aku tidak pernah menerima barang apapun dari Nikolas.

TAMU
Tidak mungkin! Aku mengenal lebih jauh tentang Nikolas daripada kau. Laki-laki itu pasti sudah membelikan barang-barang mahal. Sekarang aku minta semuanya dikembalikan padaku untuk membayar hutangnya.

NITA
Aku tidak mengerti apa yang anda inginkan. Nikolas tidak pernah memberiku apa-apa. (SEPERTI INGAT SESUATU) tunggu sebentar nyonya.

NITA MENGAMBIL BEBERAPA GELANG DAN AKSESORI TERBUAT DARI TEMBAGA DI DALAM LACI LEMARI.

NITA
Silahkan nyonya ambil semuanya. Hanya ini yang Nikolas berikan padaku.

TAMU (MENGAMBIL BARANG DITANGAN NITA DENGAN KASAR)
Apa ini? Kau kira aku ini bodoh, ha! Barang macam ini berapa harganya?

NITA 
Apalagi yang harus aku berikan?

TAMU           
Dengar ya! Nikolas menggelapkan uang perusahaan sebesar Lima Ratus Juta, dan aku tahu uang itu semuanya diberikan padamu. Kemudian kamu gunakan untuk membangun rumah dan isinya dan sisanya pasti dibelikan perhiasan-perhiasan di tubuhmu itu.

NITA
Ya Tuhan! Itu tidak benar nyonya! Rumah ini warisan mendiang ayahku, dan perhiasan-perhiasan ini hasil keringatku.

TAMU           
Bohong! Mana mungkin bekerja sebagai pelayan di diskotik mampu membeli barang-barang mahal seperti itu.

NITA 
Sumpah nyonya ini hasil keringatku.

TAMU           
He, aku tidak minta banyak. Aku hanya minta apa yang seharusnya jadi milikku sebagai istri Nikolas. Setelah itu kau boleh menikah dengan laki-laki biadab itu.

NITA 
Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan agar nyonya mau percaya. Nyonya mau memerasku, ha?!

TAMU
Kau yang memeras, dasar perempuan sundal!

NITA 
Nyonya!

TAMU           
Dasar sundal!

NITA 
Cukup nyonya! Baik kalau itu yang nyonya mau. (SAMBIL MENANGIS IA MELUCUTI SEMUA PERHIASAN YANG DIKENAKANNYA. LALU DIBERIKANNYA PADA PEREMPUAN GENDUT) ambilah, dan silahkan pergi!
TAMU (MENERIMA PERHIASAN ITU DENGAN TANGAN BERGETAR) bagaimana dengan simpanan uang tunai dalam lemari itu?

NITA (HERAN)
Uang tunai apalagi?

TAMU           
Sudah! Ini tidak akan cukup membayar hutang si Nikolas. Kau pasti punya simpanan uang, berikan padaku sekarang juga.

NITA 
 Nyonya ini sebenarnya siapa?

TAMU
Kembalikan semua hakku, perempuan murahan. Perek! Jablai!

NITA  (MENGAMBIL SEGEPOK UANG DI LACI LEMARI)
Ambil, ambilah semua milikku.
TAMU (MENGAMBIL UANG DAN MEMASUKANNYA KE DALAM TAS. TAK TERKECUALI PERHIASAN TEMBAGA. LALU IA PERGI MENINGGALKAN NITA. TAPI TIBA-TIBA KEMBALI)

NITA
Apa lagi? Semuanya sudah aku berikan.

TAMU
Bros ini pasti juga pemberian Nikolas. (MENGAMBIL BROS DI BAJU NITA) terimakasih. Semoga kalian hidup damai. (PERGI KELUAR)

NITA 
Ya Tuhan! Apa arti semua ini….

TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL NIKOLAS DARI DALAM KAMAR. WAJAHNYA TAMPAK MURUNG. IA MENGHAMPIRI NITA.

NITA
Kau lihat semuanya?

NIKOLAS
Ya, aku mengintipnya dari balik pintu kamar.

NITA
Betapa aku sangat mahal membayar semua ini, Nikolas. Semua milikku ludes diambilnya, aku tidak punya apa-apa lagi.
NIKOLAS (DIAM DAN TERMENUNG)

NITA 
Kenapa kau diam? Jadi kau menikahiku? (MEMEGANG TANGAN NIKOLAS)
NIKOLAS (MELEPASKAN PEGANGAN TANGAN NITA)
entahlah!

NITA
Apa maksudmu?

NIKOLAS (PELAN)
Tiba-tiba aku sadar kalau selama ini aku sudah berbuat salah. Aku sudah keluar dari jalur hidup yang seharusnya. Tanggung jawabku sebagai suami.

NITA
Aku tak mengerti, Nikolas?

NIKOLAS
Kau lihat wanita tadi? Dia memang istriku, dan dia datang mencariku hanya untuk menyelamatkan hidup sebuah keluarga. Dia perempuan hebat, sedangkan aku malah terbuai oleh hawa nafsuku sendiri. Jatuh dalam cinta semu.

NITA
Nikolas jangan kau katakan kalau kau juga akan pergi meninggalkanku.

NIKOLAS
Maafkan aku, Nita. Aku ingin menebus semua dosa-dosaku. Aku ingin jadi suami dan ayah yang baik bagi istri dan anak-anakku.

NITA
Nikolas kau….

NIKOLAS
Sudahlah. Aku tidak mau lama-lama tinggal di dalam neraka ini. Aku akan minta maaf kepada istriku. Selamat tinggal! (PERGI TERGESA-GESA KELUAR)

NITA
(JATUH KE LANTAI SAMBIL MENANGIS)

DILUAR TERDENGAR SUARA NIKOLAS DAN ISTRINYA BERBICARA SETENGAH BERBISIK.

TAMU (VO) 
Lama sekali. Bawa apa?

NIKOLAS (VO)
Tidak bawa apa-apa.

TAMU (VO) 
Dasar bodoh!

NITA  (MENJERIT)
Dasar laki-laki bajingaaaaaan!!

SELESAI

SAMUEL BECKETT - Krapp's Last Tape


Lakon pendek Samuel Beckett
Rekaman Terakhir Krapp (Krapp’s Last Tape)

 Ditulis di Ing gris tahun 1958. Pertamakan dipublikasikan di Evergreen Riview musim panas 1958. pert amakali di pentaskan di Royal Court Theater London, 28 Oktober 1958.

Hampir tengah malam di masa depan .[1]
Ruang Kerja kecil Krapp
Tengah depan
Sebuah meja kecil, kedua lacinya kalau dibuka menghadap penonton.
 Duduk di meja, menghadap depan, di seberang laci, seorang tua letih: Krapp.
Celana hitam murahan sempit terlalu pendek untuknya. Jas hitam murahan tanpa lengan, muat empat saku. Arloji perak dan rantainya berat, hem kumal terbuka di leher. Sepasang sepatu boot putih kotor yang luar biasa, paling sedikit ukuran sepuluh, sangat sempit dan lancip.
Wajah putih hidung bungur. Rambut abu-abu awut-awutan tidak cukur.
Mata ayam (tapi tidak berkacamata, agak tuli.) 
Suara parau. Nada suara tak biasa.
Diatas meja sebuah tape rekorder dengan microfon dan beberapa kardus berisi gulungan-gulungan pita rekaman. Meja dan daerah terdekat sekitarnya dalam cahaya putih yang kuat. Panggung selebihnya dalam gelap.

Krapp sejenak tetap diam tak bergerak, menghela nafas dalam, melihat arlojinya, merogoh-rogoh keempat sakunya, mengeluarkan sebuah amplop, mengembalikannya, merogoh-rogoh, mengeluarkan seikat kecil kunci, mengangkat kearah matanya, memilih sebuah kunci, berdiri dan bergerak ke depan meja. Ia membungkuk, membuka laci pertama , mengintai ke dalam, meraba-raba di dalamnya, mengeluarkan segulungan pita rekaman tape, memandang dekat-dekat[2], mengembalikannya, mengunci laci, membuka laci kedua, mengintai ke dalam, meraba-raba di dalamnya, mengeluarkan sebuah pisang besar, memandangnya , mengunci laci, mengembalikan kunci ke dalam sakunya.
Ia membalik, maju ke pinggiran panggung, berhenti, mengelus pisang, mengupasnya, menjatuhkan kulit diatas kakinya , memasukan ujung pisang kedalam mulutnya dan tetap tak bergerak, menatap kosong kedepan , akhirnya ia gigit ujungnya, menghadap kesamping, dan mulai melangkah mondar-mandir di pinggiran panggung, di dalam cahaya, tidak lebih empat atau lima langkah setiap arah, meditatif, makan pisang. Ia menginjak kulitnya, tergelincir, hapir jatuh, ia mendapat keseimbangannya kembali, membungkuk, dan menatap ke kulit dan akhirnya tetap membungkuk, dengan salah satu kaki, mendorongnya melampaui pinggiran pannggung ke lubang (bawah panggung)
Ia melanjutkan langkahnya, menghabiskan pisang, kembali ke meja, duduk, sejenak tetap tak bergerak, menghela napas dalam, mengambil kunci dari sakunya, mengangkat kea rah matanya, memilih kunci, berdiri dan berjalan menuju meja bagian depan, membuka laci kedua, mengambil pisang besar kedua, memandangnya, mengunci laci, memasukkan kunci kembali ke sakunya, membalik, menuju pinggiran panggung, berhenti, mengusap pisang, mengupas, membuang kulitnya ke lubang, memasukkan ujung pisang ke mulutnya dan tetap tak bergerak, menatap kosong ke depan.
Akhirnya ia mempunyai ide, memasukkan pisang ke dalam saku jasnya, ujung menyembul, dan dengan kecepatan yang bisa dia capai, dia pergi ke belakang panggung menuju kegelapan. Sepuluh detik. Letupan keras gabus. Limabelas detik. Ia kembali ke cahaya membawa sebuah buku besar tua dan duduk di atas meja, mengusap mulutnya, mengusap kedua tangan pada jas bagian depan, mengatupkan kedua tangannya ke depan dengan tangkas dan menggosok-gosokkannya.
 KRAPP : (Cepat) Ah! (Ia membungkuk di atas buku, membalik-balik halaman. Menemukan catatan yang dia inginkan, membacanya.)
 Kotak…tiga…kumparan[3]…lima…. (
Ia mengangkap kepalanya dan memandang depan, dengan suka cita )
 Spool! Kumparan! (Diam) Kumparan! Spoooool!
 (Tersenyum gembira. Diam. Ia membungkuk di atas meja, mulai memandang dan mengaduk-aduk kotak-kotak karton).
 Kotak … tiga … tiga … empat … dua … (dengan keheranan) Sembilan! Tuhan!  … tujuh … Ah! Bangsat
 (ia mengangkat kotak, memandanginya.) Kotak tiga
 (ia meletakannya di atas meja, membukanya dan memandang beberapa kumparan  di dalamnya. )
 Spool ! Kumparan! (ia memandang  bukunya.) Lima … (ia memandang kumparan. ) Lima … Lima … Ah! Banjingan Kecil
 (ia mengeluarkan sebuah kumparan, memandangnya.) Spool lima. (ia meletakannya di atas meja,  menutup kotak tiga, mengembalikan bersama yang lain, memungut kumparan.) Kota tiga Spool lima.
 (Ia membungkuk di atas mesin tape, memandangnnya. Dengan suka cita.) Spooool!
 (senyum bahagia. Membungkuk, memasang kumparan pada mesin, menggosok-gosok tangannya.) Ah!
 (ia memangdang dekat-dekat buku, membaca catatan di halaman kaki.) Akhirnya … Ibu istirahat … hm … Bola hitam
 (ia mengangkat kepalanya, menatap kosong ke depan. Bingung.)
 Bola hitam?
 (ia melihat ke buku lagi dekat-dekat, membaca.)
Perawat hitam …
 (ia mengangkat kepala, merenung, melihat ke buku, membaca.)
Kondisi buang air besar  sedikit membaik … hm … mengesankan … apa?
 (ia menatap lebih dekat.)
Siang malam mengesankan …
 (ia mengangkat kepalanya, membelalak kosong ke depan. Bingung)
Siang malam yang mengesankan?
 (Diam, ia mengangkat bahunya, melihat kembali ke buku, membaca.) perpisahan pada_
 (ia membalik halaman)_ cinta
 (ia mengangkat kepalanya, merenung, membungkuk di atas mesin, menyalakan dan mengambil posisi mendengarkan, yakni bersandar ke depan, siku di atas meja, tangan melekukan telinga kea rah mesin, wajah kedepan. )
 Tape : (suara keras, agak angkuh, jelas suara Krapp jauh dimasa lampau.)
Hari ini tiga puluh Sembilan, bunyi seperti_
 (menempatkan diri lebih nyaman, ia menurunkan salah satu kotak dan buku ke bawah, memutar ulang kembali pita rekaman dari awal menyalakan, kembali pada posisi duduknya.)
 Hari ini tiga puluh Sembilan, bunyi seperti lonceng, selain dari kelemahan lama dan intelektualku sekarang aku punya alas an curiga pada … (ragu-ragu)… puncak satu_ atau semacamnya. Menghadiri  acara-acara membosankan, seperti tahun-tahun terakhir, diam-diam ke gudang minum anggur . sendirian di depan perapian mata tertutup, memisahkan butir-butir padi dari kulitnya. Membubuhkan beberapa catatan di belakang amplop. Bagus bisa kembali ke ruang kerjaku lagi , di dalam kain-kain tuaku. Baru saja selesai makan tiga buah pisang  dan dengan menyesal harus kukatakan hanya dengan susuah payah menahan diri dari yang ke empat.  Sangat patal untuk orang dengan kondisiku.
 (dengan suara keras) pantanglah semua! (Diam.) Lampu baru diatas mejaku adalah kemajuan besar. Sejauh ini dengan kegelapan di sekelilingku aku merasa tak begitu sendirian. (Diam.) Aku suka sekali bangun dan bergerak-gerak di sekitar, lalu kembali lagi ke … (ragu-ragu) … ke diriku … (Diam.) Krapp
 (Jeda)
Butir padi, sekarang aku sendiri heran apa yang kumaksud dengan itu,maksudku … (ragu-ragu) Aku rasa maksudku … hal-hal semacam itu bernilai untuk dimiliki kalau semua debu sudah … kalau semua debu yang ada dalam diriku sudah mengendap. Kututp mataku dan berusaha dan membayangkan mereka.
 (Jeda. Cepat-cepat Krapp menutup matanya.) betapa hening malam ini, kupasang telingaku dan tak mendengar apa pun. Malam-malam begini si nona tua Mc. Glome biasanya selalu menyanyi. Tapi tidak mala mini. Dia bilang, lagu-lagu masa remaja. sulit membayangkan dia sebagai seorang gadis. Bagaimana pun dia perempuan hebat. Dari Counnaught[4], k ukira . (Diam) Apakah aku akan menyanyi                 kalau aku sampai seumur dia?. Tidak! (Diam.) sebagai laki-laki remaja aku menyanyi. Tidak (Diam.) Pernah aku menyanyi? Tidak!
 (Jeda)  
Baru saja mendengarkan masa lalu yang melintas tak sengaja. Aku tidak melihat dalam buku harian, tapi mestinya paling sedikit sepuluh atau dua belas tahun lalu, kukira pada waktu itu aku berjuang bertahan hidup dan kadang masih bersama Bianca di jalan Kedar. Diluar itu semua, ya Tuhan! Bisnis Sia-sia. 
(Diam)
Tidak banyak tentang dia, selain pujian untuk matanya. Sangat hangat. Tiba-tiba aku melihat kembali (Diam.) Tidak ada duanya!
 (Diam.) Ah betul … (Diam.) Pembongkaran mayat-mayat lama ini memang mengerikan, tapi aku sering mendapatinya sebagai
_ (krapp mematikan, merenung, menyalakan.)_suatu cara sebelum mulai ke … (ragu-ragu)… retrospeksi baru. Sulit dipercaya dulu akulah anak bajingan itu. suaranya! Ya Tuhan! Dan cita-citanya (Tertawa singkat Krapp itu serta.)
khususnya mengurangi minum. (Diam.) Rencana mengurangi … (Ragu-ragu.) … Seks yang mengasyikkan. Penyakit terakhir ayahnya, kurang bergairah mencari kesenangan. Lemah dalam tindakan. Mencibir pada masa muda dan bersyukur pada Tuhan semua sudah lama berlalu.
 (Diam.) Ada dering sumbang disana. (Diam.) bayang-bayang tentang karya … Besar.  Berakhir dengan sebuah _(Tertawa singkat.)_Lengkingan pada Tuhan_(Tertawa panjang,Krapp ikut serta.)
Apa yang tersisa dari semua penderitan itu? seorang gadis bermantel hijau kumal, disebuah peron stasiun kereta api? Bukan?
(Jeda.)
Ketika kulihat_!
Krapp mematikan, merenung, melihat arlojinya, berdiri, pergi kebelakang panggung kedalam gelap. Sepuluh detik letupan gabus. Sepuluh detik. Gabus kedua. Sepuluh detik. Gabus ketiga. Sepuluh detik. Pecah suara gemetar suara singkat.
Krapp :  (Menyanyi.) Kini hari-hariku sudah berlalu malam mengurat malam baying-bayang_
Serangan batuk. Ia kembali dalam cahaya, duduk, menyeka mulutnya,menyalakan, mengambil posisi mendengarkan.
Tape : _  Dengan kembali ke tahun-tahun yang sudah lalu, aku berharap bisa saja sekilas mata tua yang datang, disana tentu saja ada rumah diatas kanal dimana ibu terbaring menjelang ajal, dipenghujung musim gugur, after her long viduity[i]._dan_(Krapp mematikan memutar ulang sedikit kebelakang, membungkukan telinga lebih dekat ke tipe, menyalakan.)_Menjelang ajal, diawal musim hujan, after long viduity, dan_
 (Krapp mematikan, mengangkat kepalanya, membelalak kosong di hadapannya. Mulutnya bergerak Krapp mematikan, memutar ulang sedikit, membungkuk telinga lebih dekat ke mesin, menyalakan.) _dalam silabel viduity! Tanpa suara. Ia berdiri, pergi kebelakang panggung, kedalam gelap, kembali dengan kamus sangat besar, meletakan dimeja, duduk dan mencari kata-kata tersebut.
Krapp  : (Membaca dari kamus.) Viduity … Keadaan_atau kondisi_menjadi_atau tetap_janda_atau duda_(Mencari-cari. Bingung.) Menjadi_atau teta? (Diam sejenak. Ia melihat kamus lagi. Membaca.) Deep weeds of viduity … artinya kerudung duka seorang janda … Burung … vidua_burung penganyam disebut demikian karena ekornya sangat panjang dan hitam menyerupai kerudung … terutama yang dimiliki burung jantan (ia memandang dengan suka cita.) Burung vidua, burung duda atau janda!
 (Jeda. Ia menutup kamus, menyalakan, duduk kembali dalam sikap mendengarkan.)
 Tape : _Bangku diatas kanal dimana aku bisa melihat jendela. Disana aku duduk, dengan angin menusuk, berharap ibu sudah pergi (Diam.) Hampir tak ada orang, hanya beberapa yang memang selalu ada, perawat muda, bayi, orang tua, anjing, aku mulai mengenal mereka cukup baik, oh maksudku dari penampilannya tentu saja! Yang pertama kuingat kembali kecantikan seorang gadishitam yang serba putih dan berkanji, dengan sebuah dada luar biasa, dengan kereta besar berkap hitam, hamper semua hal yang berhubungan dengan kesedihan. (Diam.) Setiap kali aku menengok kearahnya, matanya tertuju padaku … dan ketika belum pernah memperkenalkan diri_cukup berani untuk berbicara padanya … ia mengancam memanggil polisi … seakan aku punya maksud kurang baik diatas diatas kebaikannya (tertawa. Diam.) Wajahnya! Matanya! Seperti … (Ragu-ragu.) … permata zaitun! (Diam.) Ahya … (Diam.) aku disana ketika_(Krapp, mematikan, merenung, menyalakan lagi.)_kerai jendela diturunkan, salah satu pengurung bingkai coklat kotor itu, melempar bola pada seekor anjing putih, sebagai kemungkinan bisa memiliki. Aku sempat memandangnya dan disanalah padaakhirnya semua terjadi dan … (Diam.)… Berlalu. Untuk beberapa saat aku duduk dengan bola ditanganku dan si anjing mendengking-dengking dan mencakar-cakar kearahku. Saat-saat. Saat-saatnya, saat-saatku … (Diam.) Saat-saat si anjing. (Diam.) Pada akhirnya kuulurkan padanya dan ia pun mengambilnya, memasukan kemulutnya, dengan lemah-lembut, pelan-pelan. Bola karet tua, padat hitam dank eras. (Diam.) aku akan merasakannya ditanganku, sampai akhir hayatku. (Diam.) Bisa saja aku memilikinya. (Diam.) Tapi kuberikan pada si anjing.
 (Jeda.)
 Naah ya …                        
 (Jeda.)
 Setahun dalam muram dan derita batin luar biasa, sampai pada malam penuh kenangan di bulan Maret  di dermaga laut angin menderu, tak pernah terlupakan, ketika tiba-tiba aku melihat seluruhnya, bayang-bayang teakhir  yang aku sukai ini apa yang berhasil kurekam mala mini. Berbeda siang hari ketika kerja harus diselesaikan dan mungkin tak ada tempat tersisa untuk ingatanku, hangat atau dingin, untuk keajaiban yang … (Ragu-ragu.)… untuk api yang membuatnya cahaya. Apa yang tiba-tiba kulihat kemudian adalah ini, bahwa keyakinan yang telah kujalani sepanjang hidupku, sebenarnya … (Krapp mematikan tidak sabar, memutar pita maju kedepan, menyalakan lagi.)_hanya batu granit besar mengguncang busa terbang keatas dalam cahaya mercusuar dan angin berputar dengan kecepatan baling-baling, jelas bagiku pada akhirnya bahwa gelap yang selalu kusimpan dalam-dalam dengan susah payah dalam kenyataannya adalah perasaan-perasaan yang tidak pernah goyah, sampai terhentinya badai dan pupusnya malamku bersama api dan cahaya pencerahan_(Krapp menyumpah lebih keras, mematikan, memutar maju rekaman, menyalakan lagi.)_wajahku didadanya dan tanganku diatasnya. Kami berbaring disana tak bergerak, dan menggerak- gerakan kami, pelan, ke atas dank e bawah, dan dari samping ke samping.
(Jeda.)
Lewat tengah malam. Belum pernah tahu hening demikian. Barang kali bumi tak berpenghuni.     
(Jeda.)
 Disini kuakhiri_(Krapp mematikan, memutar ulang kebelakang, menyalakan lagi.)_diatas danau, dengan perahu lebar dan papar, mandi di pinggiran, lalu terjun kesungai berhanyut-hanyut. Dia berbaring diatas lantai papan dengan tangannya dibawah kepala dan matanyatertutup. Matahari terik turun, angin agak sepoi, airnya hidup dan menyenangkan. Kuperhatikan goresan diatas pahanya dan menanyakan padanya bagaimana bisa terjadi. Memetik buah frambos, jawabnya. Kujawab lagi kupikir tak ada gunanya dan tak baik diteruskan, dan tanpa membuka matanya, ia pun setuju. (Diam.) Kuminta dia memandangku, dan setelah beberapa saat_(Diam.)_setelah beberapa saat _(Diam.)_setelah beberapa saat dia melakukannya, tapi matanya hanya menyipit, karena cahaya menyilaukan. Aku membungkuk mendapatinya dalam bayangan, dan keduan matanya membuka. (diam.)Biarkan aku masuk (Diam.) Kami berhanyut-hanyut disela tanaman belukar dan terjebak. Caranya tenggelam, desahnya, di depan haluan! (Diam.) Aku berbaring melintang dengan wajahku didadanya dan tanganku diatasnya. Kami berbaring disana tanpa bergerak. Tapi dibawah kami semua bergerak, dan menggerak-gerakkan kami, pelan, keatas, kebawah, dan dari samping ke samping.
(Jeda.)
Krapp mematikan, merenung, akhirnya meraba-raba sakuya, menemukan pisang, mengeluarkan, memandangnya, meletakan kembali, merogoh-rogoh, mengeluarkan amplop, merogoh-rogoh, mengembalikan amplop, melihat arlojinya, berdiri dan menuju kebelakang panggung ke dalam gelap. Sepuluh detik, suara botol beradu gelas, kemudian tuangan singkat, sepuluh detik, hanya botol beradu gelas. Sepuluh detik. Ia kembali kedalam cahaya, sedikit terhuyung, menuju depan meja, mengeluarkan kunci, mengangkat kedepan matanya, memilih kunci, membuka laci pertama, mengintip kedalam, meraba-raba didalamnya, mengeluarkan alat penggulung, memandanginya, mengunci laci, memasukkan kunci kedalam sakunya, melangkah dan duduk kembali, melepaskan kumparan dari mesin tape, meletakkannya diatas kamus, memasang kumparan yang masih baru kemesin, mengambil amplop dari sakunya, meletakkan diatas meja, menyalakan, menjernihkan kerongkongannya, dan mulai merekam.
Krapp : baru saja mendengarkan si bajingan goblok, yang kurekam sendiri tiga puluh tahun lalu, sulit untuk percaya aku pernah seburuk itu. terima kasih Tuhan bagaimana pun semua terjadi. (Diam.) Mata yang dia miliki! (Merenung, menyadari ia merekam keheningan. Mematikan, merenung. Akhirnya…) Segala-galanya disana, segala-galanya, semua_(Menyadari belum terekam, menyalakan.) segala-galanya Diana, segala-galanya diatas bola kotor tua ini, semua terang dan gelap dan kelaparan dan pesta-pesta … (ragu-ragu.) Bertahun-tahun (Dalam teriakan.) Ya! (Diam.) Biarkan itu pergi! Ya Tuhan! Melepaskan pikiran dari pekerjaan rumahnya! Tuhan! (Diam, Bosan) Baiklah! Mungkin ia benar. (Diam.) Mungkin ia benar. (Merenung, menyadari, mematikan, memeriksa amplop.) Bwuah! (Meremas-remas, membuangnya, merenung, menyalakan.) tak ada yang diucapkan, tak secicip pun. Tahun berapa sekarang? Kunyahan basi dan bangku besi. (diam.) Bersuka ria dengan kata Spool.
(Dengan suka cita.) Spooool! Masa-masa paling menyenangkan setengah juta masa lalu. (Diam.) Terjual tujuhbelas  Copy, sebelas diantaranya dengan harga pasar untuk menyebarkan sirkulasi ke pustakaan keseberang lautan. Mulai dikenal … (Diam.) satu koma enam poin sekian, delapan aku sedikit bimbang (Diam.) merangkak keluar rumah sekali dua kali, sebelum musim panas kembali dingin. Duduk ditaman mulai menggigil, tenggelam dalam mimpi-mimpi dan membakarnya habis. Tak ada orang. (Diam.) Kesenangan-kesenangan terakhir.
(Dengan semangat.) Simpan semua dalam-dalam. (Diam.) Mataku mendidih lagi membaca effie, satu halaman satu hari, dengan air mta lagi … effie … (Diam.) Bisa saja berbagi bersamanya, di atas sana diatas baltik, dan cemara-cemara, dan bukit-bukit pasir. (Diam.) Bisakah aku? (Diam.) Dan dia ? (Diam.) Bwuah! (Diam.) Fanny dating beberapa kali, hantu tua cabo bonny, tak mampu berbuat banyak, tapi kukira lumayan dari pada tendangan kecil di selangkangan. Waktu terakhir kali tidak takbbegitu buruk. Bagaimana kau mengaturnya, tanyanya, diusiamu? Kukatakan padanya telah kusimpan untuknya sepanjang hidupku. (Diam.) sekali pergi ke gereja, seperti ketika aku masih bercelana pendek.
(Diam. Menyanyi.)
Kini hari-hariku sudah berlalu, malam menggurat malam bayang-bayang _(Batuk-batuk hamper tak terdengar.)_malam menyelinap melintas langit
(Menghela Napas.) Mengantuk dan terjatuh di bangku gereja. (Diam.) di malam hari kadang bertanya-tanyakalau-kalau upaya terakhir … tidak_ (Diam) Ah habiskan minuman kerasmu sekarang dan lekas ke tempat tidur. Lanjutkan omong kosong ini besok pagi  atau tinggalkan begitu saja. (Diam.) Tinggalkan begitu saja. (Diam.) berbaring bersandar di dalam gelap_dan mengembara. Kembali lagi kepohon di malam natal, perjamuan suci, buah Frambos merah. (Diam.)  Kembali lagi ke Croghan di minggu pagi, di dalam kabut bersama si ajning betina, berhenti dan mendengarkan bunyi lonceng … (Diam.) Seterusnya … (Diam.) kembali lagi. Kembali lagi … (Diam.) seluruh kesengsaraan lama itu. (Diam.) Terbaring melintang di atasnya.
(Jeda lama.)
Tiba-tiba ia membungkuk diatas mesin, mematikan, merenggut rekaman tape dengan kasar, membuangnya, memasang yang baru, memutar maju kedepan ke bagian yang di inginkan, menyalakan, menatap kedepan.
Tape : _ Buah prambos, jawabnya. Kujawab lagi, menurutku tak ada gunanya dan tak baik diteruskan, dan tanpa membuka matanya dia pun setuju. (Diam.) Kuminta dia mengundangku dan setelah beberapa saat  dia melakukannya, tapi matanya hanya menyipit sebab cahaya menyilaukan. Aku membungkuk mendapatinya dalam bayangan, dan kedua matanya menatap kedepan. (Diam.) Biarkan aku masuk. (Diam.) kami berhanyut-hanyut disela tanaman belukar dan terjebak. Caranya tenggelam, desahnya, di depan haluan! (Diam.) aku berbaring melintang dengan wajahku di dadanya dan tanganku diatasnya. Kami berbaring disana tak bergerak. Tapi dibawah kami semua bergerak, dan mengerak-gerakkan kami, pelan, keatas, kebawah dan dari samping ke samping.
(Jeda. Bibir Krapp bergerak tanpa suara.)
Lewat tengah malam . belum pernah mendengar hening demikian. Bumi barangkali tak berpenghuni.
(Jeda.)
Di sini kuakhiri rekaman ini. Kotak_(Diam.)_tiga, spool_(Diam.)_Lima.(Diam.) Mungkin tahun-tahun  terindahku sudah berlalu. Ketika disana ada kesempatan untuk bahagia. Tapi aku tak ingin mereka kembali. Tidak dengan api yang kini ada dalam diriku. Tidak, aku tidak menginginkan mereka kembali.
(Krapp tidak bergeral menatap  di depannta. Pita rekaman terus berjalan dalam hening.)
Layar
 



[1] Menjelang tengah malam di masa depan _ untuk tidak mengundang perdebatan di antara para kritis. Beket memberikan keterangan waktu itu: di masa depan, sebagaimana alat magnetic tape recorder relative merupakan penemuan masih baru pada waktu itu, tidaklah mungkin di tahun 1958 untuk orang setua Krapp di dalam lakon tersebut untuk mendengarkan hasil rekaman suaranya sendiri yang dalam cerita di rekam semasa hal. 124). Dalam buku A samuel Beckett Reader, I cant go on, III go on, Grover Press, New York, 1976 , hal 476. Antara lain dituliskan Krapp di usia 69 tahun, mendengarkan rekaman yang dibuat sendiri 30 tahun yang lalu, diusianya yang ke- 39 tahun.
[2] To peermenatap(i) dekat-dekat; biasanya dilakukan untuk dapat melihat dengan jelasLexicon Webster Dictionary, The English Language Institut of America, Inc. 1978, hal. 699. Selanjutnya dalam terjemahan ini, kata dekat-dekat tidak lagi dituliskan menyusul kata memandang (to peer), meskipun maksud dan pengertiannya tetap sama, mengingat Krapp si pelaku dalam lakon ini bermata ayam (rabun ayam)
[3] Spoolkumparan, gelondongan; Kamus Inggris-Indonesia, John M. Echol dan Hasan Shadily, PT.Gramedia, Jakarta, 1988, first publisdeh by Cornell University press Ithacha and London, 1975, hal. 547. Kata Spool tetap dipertahankan seperti aslinya karena merupakan kata yang menjadi kegemaran si pelaku dalam naskah/lakon ini.
[4] Connaught : sebuah daerah/ propinsi di daerah barat Irlandia.


[i] Viduity kerudung janda

Mengenai Saya

Foto saya
Lack of happiness