Tampilkan postingan dengan label SAJAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAJAK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juli 2011

Teorema Pagi

Subuh,
bulan habiskan 2 botol minyak menyala.
Berpendar jari-jarinya yang belah.
Tercabik kilau tajam,
terlampau redup dan berbayang.
Di kakiku, purnama.
Melingkar bundarnya. Goresan halus berbintik, bercak kusam pena.
Di langit ia mendung, terenggut potongan kejantanannya. Dan goresan halusnya, bercak kusam yang terluka.

Tenanglah & Katakan Sesuatu

Pucat kulitmu nanar kutatap,
kaku nian.
Dengan jari-jari, hendak kurapikan rambutmu yang kusut.

Ada apa?
Sedari tadi kau terpejam,
tunggulah.
Tunggu sebentar.
Ayahmu akan datang, karena hendak kawin kita.
Lalu tiap malam membuat anak, berpuluh-puluh. Hingga sesak kita punya rumah.
Dan kau akan sibuk menyusui mereka.

Kau tahu ini menggemaskan bukan?

Tenanglah,
berbaring aku di keningmu.
Dan telah kurundingkan agar ia mau menunggu.

Aku janji,
besok siang kubelikan sekerat roti.
Tapi nantilah mati.
Mintalah umur sehari lagi.

Rawa Menanga

Deras gerimis tersahut kerubung jangkrik,
berpeluh mengayuh ke rawa tepi.
Gemerisik air lalu tumpah memenuhi ranting bakau.
Waktu yang muram,
bermandi hujan dan lumpur kecoklatan.

Sebenarnya inginku berenang ke muara,
sebab disini baunya terlalu tawar,
sebab disini lumpurnya membuatku menggelepar.

Sebenarnya ingin kugapai batu karang dan bermain air-airan.

Apa daya,
ombak menjauh bersama petang.
Menyeret sukmaku entah kemana.

ECLIPSE OF THE MONK

Di rebahan pohon,akar yang merunduk malu.
Hasrat luar biasa damai terpejam kita,
Tenggelam sangat dalam ucapan selamat tinggal,
yang redup,melompong kekosongan tanah yang padat.

Akunya,dua mata berbuih laksana genggaman yang erat.
Menyala seperti aroma sendu yang galau.
Ah maut,tidak bisa aku tertidur.

Jogja, Mei 2006.

Redundan

Adalah kelam saat terucap lagi mantra yang sama.
Mayapada
Kumbakarna
Duryodana.
Bersama semu meregang kita punya janji. Dan kepalan-kepalan, berapa lama masih hendak menggenggam?
Kutemukan sebilah badik menyala di sisimu. Lenganmu yang kekar berayun seolah hendak menghujamkannya ke jantungku.
Akankah?
Seperti hari kemarin, tanganku merangkai pelepah kelapa menjadi permata indah. Membuatmu merekah kemilau.
Namun, lantas secepat itu murka berkelebat.
Segeram seringai maut,
sebuas raung sorakmu.
Terlontar sumpah
terlontar gundah gulana
terlontar berjuta mantra.

Redundan,
telah kita coba.
Namun rupa tak hendak berbeda.

Apa Dirimu?

Apakah benar engkau menghujaniku dengan keluh kesahmu?
Apakah benar isak tangismu adalah tangismu?
Apakah benar sembap matamu memang matamu?
Wanita,
belum bisa kupecah teka-teki itu.

Retropoetic

Mari merangkai bunga,
lantas menyelipkannya di telinga.
Mari merajut renda, lantas menyelimutkannya di dada.
Mari!

Relik Segumpal Daging

Segumpal daging busuk yang berpikir tentang cinta.
Adalah bias dan
metafora,
serupa jaring-jaring yang bertirai.
Jendela membuka pada waktu yang tidak pantas dinikmati,
ketika berkepompong
ketika bertudung
dan mendesah.

Sepotong daging yang membusuk
tidak pantas terkena terik matahari
sebab busuknya anyir
mencibir
nyinyir
seperti bibir

Memang belum waktunya,
ayam belum lagi singkapkan senja
masih terdengar di luar sana desah embun
marilah tengok,
dan lihat bagaimana ia serupa gejolak yang siap ditembakkan.

Gumpalan,
bergidik dengan anyir
nyinyir
mencibir
seperti bibir

bukakan pada liang yang mereka anggap berair,
lalu tunjukkan bahwa mereka terlalu melebihkan definisi.
Ayo berikan,
biarkan mereka genggam.
Biar puas
biar lemas
biar pulas

tidakkah kau takut gumpalan daging membusuk?

Ia mencercamu

Diam,
masih sunyi
sepi dari tulah bala tulah manu dan tulah-tulah lainnya.

Cepat bergetar,
memutar hingga menggelepar gelepar gelepar gelepar.
Kancingkan ikat bajumu.

Segumpal daging busuk
daging yang membusuk.
Ataukah yang dibuat busuk?

Enyahkan pikiran itu,
sekarang keluar
ambil panci dan baskom
ambil sekop dan linggis
mari memetik embun
legakan dahagamu busuk
legakan otakmu busuk
legakan kelaminmu busuk
legakan dagingmu busuk.
Atau memang sengaja dibuat busuk?

Kendorkan,
kesinikan bilah bambu itu
kita peram embun-embun kelabu
meniriskannya
membuatnya ungu biru dan malu-malu.
Ayo, jangan ragu-ragu.
Bawa sini daging busukmu
bawa sini otak busukmu
bawa sini kelamin busukmu.
Atau memang sengaja busuk olehmu?

Penyair adalah daging-daging yang busuk,
impresionis karna mabuk
ekspresionis karna buruk
realis karna sibuk
naturalis karna sok sibuk.

Bergegas,
tancap disini daging yang busuk.
Biar meluber
dan mereka tahu berurusan dengan siapa.
Lekaslah, hari telah subuh
jelinggat matamu jangan sampai tahu.

Daging segumpal bergumpal daging busuk membusuk menggumpal gumpal daging membusuk.
Atau memang sengaja dibuat busuk?

Sorak-sorai genderang perang siang terang sampai dini hari.
Dan masih gunakan otak meraba gelung-gelung yang tiada hentinya.

Kronik Pagi Buta

Pecah, pecahan. Mengambang.
Hanyut, terhanyut, resah.
Kukira tiada lagi kokok-kokok ayam.

Jika Yang Lalu

Jika ada kehendak, tutuplah sendu dengan jemarimu.
Seperti hari ini berikan pada makan pagi kita:
sebuah kemurungan yang merasuki keempat kaki meja.

Taruhlah dua gelas ini kosong, mengaca pada layarnya wajahmu.
Akan begitukah senyummu sekarang?
Meski buram,
meskipun pahit menyesakkan?

Hanya terpejam,
terpejamlah saat terluka.
Lalu membisulah.
Karena engkau kasihku,
karena tidak kita ciptakan waktu dengan keonaran.

Tanjakan Terakhir

Kuingin terpejam sambil meresap gunung-gunung.
Aliran lembut dari puncak ke lembah, merayap di selasar tebing bersama kabut, bergumul.
Ingin kurasa desahmu menjemit, bergelut dengan lumpur dan jalan rumpang.
Jangan berbisik, diamlah dulu.
Dengarkan!
Untukmu masih kucarikan rindu.

Masih Menuju (-Mu)

Berputar,
bertumpu
pada waktu.

Mengeluh dan melenguh
karna buntu.

Mari samakan suara,
dan kita buat getar-getar bergolak di dada.

Diamkan!
Hening,
sunyi.

Ah, seperti berlabuh di tepi sawah suatu senja.
Cahaya jingga yang merona saat
temaram tiba.

Waktunya berdoa.

Pada Hendakku

Pernah ku berjanji
pada tiang-tiang yang terpancang tentang lamunan kedua.
Tidak akan kupikirkan setiap kali jauhnya batas menembaki gerakan jari-jemari,
karna bukan untuk itu aku hendak bertamu.

Pernah ku berjanji pada bilah bambu.
Tentang mengubahnya menjadi marmer di setiap sudut, lantas membayangkan senyum pada mata yang menatapnya.

Apakah berlebihan?
Ayo katakan!

Padahal kita hendak melebur dalam urat dan tetes keringat,
beserta hari-hari yang menebal di dahi dan telapak tangan.

Tunjukkan,
bahwa kata adalah gelembung yang berdetak di jantungmu.
Merumbai seperti atap pondok yang sekarang kita bangun.

Halaman 26

Pagi ini menggila rusuhnya, terlipat lelah tubuh berselimut.
Meregang raga, seolah menagih keramat kata.
Aku tahu isak tangis yang mengaum di sana, keharuan yang membayang di sela-sela tidur.
Tentang rindu dan hasrat berdebu pada setapak kota-kotamu.

Telah kudengar sayup sajakmu sedih, menembang berjuta duka.
Berserak bersama daging-daging, lantas bergumuruh dengan hiruk pikuknya doa.

Tahukah kau?
Kerinduan mendekap erat di anak jauhmu, semakin terpuruk oleh deru angin di luar sana.

Bagaimana kabarmu?
Apakah sama, meringkuk sepertiku?

Jejak Di Ujung

Gumpalan kain perca masih menggantung di langit, tergulung bersama warna kelabu di atap yang dingin. Akan kurangkai setiap pola acak di sudutnya, lantas kuterka enigma apa yang hendak disodorkannya.

Petak-Petak Kuburan

Jika diayunkan godam padamu,
maka para pelatuk akan memenuhi langit
Berguguran beserta kabut yang pekat.
Saat telah diucapkan kata, dan pemberkatan diberikan untuk mereka yang muram.
Maka kita berjalan dengan langkah lesu, tidak lagi terhiraukan.

Tengoklah ke bawah sini.
Bahwa wajah-wajah mulai berembun, bertambah gelap oleh jelaga dan air mata.
Risau
membiru
semakin terpinggirkan.

Rabu, 06 Juli 2011

If Dark Has A Name

A lonely
is used to be a perfect scare..!!
As a worst nightmare!

I'm afraid of nano sphere
afraid of smallest silence
afraid of glorious blind
the sharpen knife
- as a roullette
which may kill these
obvious pathetic minds!

(my b{a/e}d, 01.12 Wita)

Titik Nol

Aku berdiri di ujung muara
sepi
sendiri
makin terasing dari laut

Ekstase

Sebutir baja di kepala
menatap lekat dua mata antaranya
berdesing pelan
lantas roboh tak bernyawa
Sebaris doa pada bibir
adalah cerutu saat hisapan terahir
menyesak dada
lalu gelap dan bertabir

Selasa, 28 Juni 2011

POSSESIF

Dik, bintik apa yang mengembun di keningmu?
Menetes pelan, mengalir di sepanjang urat rambut.
Acak-acakan, membuatmu terlihat seperti habis dijambak.

Dik, tissue apa yang kau pakai mengusap lipstikmu?
Bibirmu tak lagi ranum, sedikit belepotan di sela-selanya.
Terlihat agak memar, seperti habis dikulum atau digigit.

Dik, apa kau memakai parfum merek baru?
Baunya tajam menusuk hidung, sedikit tercium aroma cendana.
Melulur rata di sekujur tubuhmu, seolah ditumpah dan dioles-oles.

Dik, kenapa kau tidur tak menutup pintu?
Kulihat banyak puntung di meja, seperti dihisap entah oleh siapa.
Rokoknya Philip-Morris, ada bekas lipstik di salah satu puntungnya.

Dik, mengapa tak kau jawab aku?
Kau menatapku seolah hantu, menyerupakan dengan mahluk penunggu kubur.
Menganggapku bertaring, membuatku merasa seolah vampir.

Dik, apa katamu?
Suamimu ada di belakangku?

Mengenai Saya

Foto saya
Lack of happiness